top of page

BEJANA TANAH LIAT



2 Kor 4:7 “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.”

Kami mempunyai celengan ayam dari tanah liat yang sangat besar di teras depan rumah. Tiga tahun telah berjalan, rupiah demi rupiah terkumpul dalam celengan, baik uang logam maupun uang kertas.

Berharap akan kami pecahkan ketika kedua anak kami menikah, sebagai tanda melepas masa lajang mereka.

Tetapi belum genap waktunya, suatu hari seorang tamu tanpa sengaja memecahkan celengan itu. Ya, dapat dimengerti celengan itu bisa pecah karena terbuat hanya dari tanah liat.

Ayat di atas menjelaskan kekuatan kita sesungguhnya berasal dari Allah. Kita ibarat bejana dari tanah liat yang tidak berkuasa menyelamatkan dirinya sendiri.

Kesadaran akan sumber kekuatan hanya dalam Kristus mendorong kita bersandar dan bergantung hanya kepada Allah.

Kekayaan, jabatan, kepandaian, koneksi, prestasi dan sebagainya, bukanlah sumber kekuatan.

Kita seharusnya senantiasa menjadikan Allah sebagai sumber kekuatan dengan cara: mengenyangkan diri kita dengan firman Allah (Mzm. 119:105), memercayai Allah dalam doa (Mzm. 5:3) dan memercayai Allah dengan melayani orang lain (Yoh. 21:15).

Hal-hal apakah yang selama ini kita anggap sebagai sumber kekuatan kita?

Pilihan memang di tangan kita, namun Allah merindukan kita hidup bersandar dan bergantung sepenuhnya hanya kepada Dia.

Hidup berkemenangan tiada terbatas hanya dapat diperoleh dari sumber kekuatan yang tiada terbatas pula, tidak mungkin dari diri kita yang terbatas ini.

Hidup berkemenangan tiada terbatas hanya diperoleh dari sumber kekuatan yang tiada terbatas pula.”


Kommentare


bottom of page