top of page

DEKAT DENGAN ALLAH



Mazmur 62:2 ‘’Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.’’


“Hanya dekat Allah saja aku tenang,” kata Pemazmur. Dan, kita setuju.


Pertanyaannya, kondisi seperti apakah yang bisa disebut dekat dengan Allah? Apakah ketika kita merasa dekat dengan Tuhan? Ups, tunggu dulu.


Perasaan seperti itu bisa benar, tetapi bisa juga palsu dan menipu: kita merasa dekat dengan Tuhan, padahal jangan-jangan hidup kita jauh dari Tuhan.


Ingat kaum Farisi? Mereka yakin telah hidup dekat dengan Allah. Tetapi, Tuhan Yesus menilai mereka hidup jauh dari Allah.


“Hanya dekat Allah saja aku tenang,” kata Pemazmur.


Ketenangan yang bagaimana? Tenang karena bebas dari kesukaran maupun derita?


Tentu bukan. Dekat dengan Allah tidak membebaskan kita dari kesukaran dan derita. Tenang karena semua harapan terpenuhi?


Tidak juga. Hidup dekat dengan Tuhan tidak membuat semua harapan pasti terpenuhi.


Orang yang dekat dengan Tuhan adalah orang yang selalu mengandalkan Tuhan dan berjuang menghidupi kehendak-Nya, yakni kebenaran dan kasih.


Orang ini tenang, tidak akan goyah. Bukan karena ia steril dari segala kesulitan (kita tahu, hidup dekat dengan Tuhan justru harus memikul salib), melainkan karena dia memilih menghidupi kebenaran dan kasih dengan menyadari bahwa derita yang mungkin ia alami adalah salib yang Dia izinkan untuk dipikul, dan dia rela bahkan berbahagia karenanya.


Kepasrahan kepada Tuhan, dan kerelaan untuk memikul salib dalam perjuangan menghidupi kehendak Tuhan, lahir dari kedekatan dengan Tuhan. Dan, itulah yang membuatnya tenang bahkan berbahagia.


’’Dekat dengan Allah membuat orang mengandalkan Allah, dan berjuang menghidupi kehendakNya’’


bottom of page