top of page

DENGAN AKAL SEHAT




Amsal 17:22 “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”


Ada dua pertanyaan: Apakah hati yang gembira sungguh melenyapkan semua penyakit? Apakah semangat yang patah sungguh membuat kita terkena osteoporosis alias keropos tulang?


Saudaraku, Amsal 17:22 adalah kiasan. Itu tidak bisa dimaknai secara harfiah. Memaknai kiasan secara harfiah akan membawa kita pada makna yang salah.


Amsal 17:22 memang mengingatkan bahwa suasana hati (gembira, optimis, sedih, putus asa, dll.) bisa memengaruhi kesehatan maupun kinerja seseorang. Namun, kita percaya, bacaan Kitab Suci ini tak hendak mengajak kita bersikap naif dan irasional.


Firman Tuhan justru menasihati agar kita menggunakan akal sehat: tidak menganggap bahwa patah semangat menyebabkan keropos tulang, tidak menganggap bahwa hati yang gembira adalah pengganti obat maupun prosedur dan terapi medis lainnya.


Apakah nasihat itu masih relevan?


Ternyata, keadaan masih memerlukan itu. Ingat apa yang terjadi ketika Covid-19 merundung negeri kita? Banyak orang menolak menjalani protokol kesehatan, menolak menerima vaksin Covid-19, dan berkeras bahwa hati yang gembira akan dengan sendirinya meningkatkan imunitas serta menangkal virus Covid-19.


Itu sekadar contoh. Dan, Amsal 17:22 menasihati kita untuk meninggalkan sikap keliru itu.


Iman melampaui pikiran dan akal budi. Itu benar. Namun, pikiran dan akal budi adalah anugerah Tuhan juga.


Itulah sebabnya, Tuhan memerintahkan agar kita mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi. Karena itu pula, kita diundang untuk beriman dengan akal sehat.


”Tuhan tak hendak mengajak kita bersikap naïf, kita harus yakin dan percaya itu”

Comments


bottom of page