top of page

IMAN TIDAK SEMBRONO



Keluaran 2:3 .. sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, ... diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil.


Begitu mendapat gaji, seorang pemuda sudah langsung menghabiskan hampir separuh gajinya. “Boros sekali,” komentar temannya,


“Begini caranya bagaimana kau nanti memenuhi kebutuhan menjelang akhir bulan?” “Tenang saja,” jawab pemuda itu dengan santai. “Aku beriman Tuhan pasti mencukupkan kebutuhanku.” “Bagus kita beriman, tetapi kau harus mengerti iman tidak sembrono,” nasihat temannya.


Iman tidak sembrono. Bukan berarti karena percaya kepada Tuhan, kita bisa melakukan tindakan sekehendak hati dan tanpa pikir panjang.


Faktanya, iman yang benar justru penuh pertimbangan. Contoh iman yang benar dapat kita lihat dari pengalaman Yokhebed.


Tidaklah dapat lagi ia menyembunyikan bayinya sesudah tiga bulan lamanya. Bayi sudah bertumbuh besar. Maka Yokhebed meletakkan bayi itu dalam sebuah peti pandan, lalu menaruh peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil.


Tampaknya sembrono, tetapi sesungguhnya, tindakan tersebut berasal dari pemikiran yang matang. Saat bayi ditaruh ialah saat putri Firaun mandi Pula Yokhebed menempatkan Miryam, kakak si bayi sebagai penjaga. Apabila nanti arus sungai membahayakan si bayi, si kakak segera datang menolong.


Tuhan membekali kita manusia dengan akal budi untuk menimbang setiap tindakan yang hendak kita lakukan. Maka jangan lagi kita bertindak sekehendak hati (seperti pemborosan, kebut-kebutan atau makan berlebihan), mengira tidak ada akibat buruk terjadi karena kita beriman kepada Tuhan.


Selalu ingat iman tidak sembrono, sebaliknya, penuh pertimbangan. Walaupun berkata, “Aku beriman kepada Tuhan,” konsekuensi akan kita tanggung apabila tindakan kita selalu sembarangan.


Kita beriman Tuhan mempu melakukan segalanya, namun bukan berarti kita melakukan segalanya secara sembarangan

Kommentare


bottom of page