top of page

KEBANGGAN DIRI



1 Tawarikh 21:7 ‘’Tetapi hal itu jahat di mata Allah, sebab itu dihajar-Nya orang Israel.’’


Apa salahnya bangga diri atas sebuah keberhasilan? Bukankah jerih payah, apalagi hasil perjuangan sekian tahun harus dirayakan? Tidakkah kesuksesan mendatangkan sukacita yang wajar, bahkan sehat? Tetapi rupanya ada kebanggaan yang semu, bahkan berdosa. Itu juga yang Raja Daud alami.


Ketika Daud memberi perintah kepada Yoab untuk menghitung orang Israel, hal itu justru membangkitkan murka Allah.


Rupanya ada motif tersembunyi ketika ia ingin tahu jumlah rakyatnya. Daud dapat membanggakan diri dengan mengetahui hasil penghitungan.


Ia bisa beranggapan bahwa rakyatnya adalah sekian banyak orang yang tunduk dan bergantung padanya. Juga bahwa mereka adalah hasil perjuangannya memperoleh takhta raja.


Kebanggaan semacam ini adalah awal kesombongan. Padahal di mata Allah, kesombongan adalah kejahatan yang sangat serius.


Hal itu merupakan penolakan untuk bergantung kepada Tuhan. Untung saja Daud segera menyadari kesalahannya dan memohon belas kasihan Tuhan, meskipun telanjur sudah ada korban.


Kita pun harus ekstra peka terhadap dosa kesombongan. Godaan semakin besar jika kita memiliki prestasi yang membanggakan.


Sebaliknya, sebagaimana sikap Paulus, kebanggaan kita seharusnya adalah kepada Kristus yang telah menaklukkan segala sesuatu.


Oleh anugerah Kristus yang memilih kita, kita dapat meraih keberhasilan. Kebanggaan yang sehat berisikan ucapan syukur kepada Allah dan bukan pada sikap meninggikan diri di atas orang lain.


’’Ketika kita bersukacita atas keberhasilan, marilah kita merayakannya dengan kerendahan hati seperti ucapan syukur kepada Tuhan’’

Comments


bottom of page