top of page

MENGAPA BUKAN AKU?



Yoh 1:42 “Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata, “Engkau adalah Simon, anak Yohanes. Engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”

Mendengar kabar kalau sahabatnya diputuskan oleh kekasihnya, seorang wanita lekas pergi menemui sahabatnya yang sedang bersedih hati. “Nanti Tuhan pasti memberikan kekasih yang lebih baik untukmu,” hiburnya.

Esoknya wanita itu mendengar sahabatnya yang lain dipinang oleh seorang pria tampan, mapan, dan takut akan Tuhan. Dalam hati ia menggerutu, “Mengapa bukan aku?”

Oscar Wilde menyadari akan sifat buruk manusia yang satu ini. Penulis naskah drama itu menuturkan, “Siapa pun bisa bersimpati bersama-sama ketika seorang teman menderita. Namun, seseorang harus berbesar hati untuk bisa bersimpati dengan kesuksesan seorang teman.”

Tidak mudah bersukacita saat mendengar orang lain mendapat keberuntungan. Untuk itu, kita dapat memberi acungan jempol pada Andreas.

Hari itu Andreas mendengar Yohanes menunjuk Yesus sebagai Mesias. Lekas ia membawa Simon, saudaranya kepada Yesus. Oleh Yesus, Simon diberi nama baru: Kefas, artinya Petrus.

Pemberian nama baru cukup menyadarkan Andreas bahwa saudaranya nanti akan dipakai Tuhan secara luar biasa.

Menarik, tidak tercatat Andreas menjadi kesal, lalu ia menggerutu, “Mengapa bukan aku?” Sampai akhirnya Andreas terus berbesar hati mengetahui Petrus lebih unggul sebagai rasul.

Alangkah indahnya jika kita dapat meneladani sikap Andreas. Akan menyenangkan sebuah kehidupan jika kita dapat turut bersukacita dan merayakan kebahagiaan orang lain.

Lagi pula tidak seharusnya hati menyimpan perasaan iri, dengki, atau tidak puas. Tidak seharusnya mulut mengeluh, “Mengapa bukan aku?”

Karena pada kenyataannya Tuhan sudah dengan adil membagi berkat-Nya. Segala yang kita terima saat ini sudah merupakan bagian yang terbaik dari Tuhan.

”Menghibur dan menolong orang lain yang menderita itu biasa, bersukacita dan merayakan kebahagiaan orang lain itu luar biasa”


Comments


bottom of page