top of page

MENJUAL ANUGERAH






Kejadian 25:33 “Kata Yakub, "Bersumpahlah dulu kepadaku." Esau pun bersumpah kepadanya dan menjual hak kesulungannya kepada Yakub.”


Seorang pria kedapatan melakukan kesalahan fatal. Ia mengemudi motor dalam keadaan mabuk dan menabrak seorang pejalan kaki hingga tewas. Ia pun terancam hukuman 15 tahun penjara. Di persidangan, hakim menawarkan penangguhan hukuman 15 tahun penjara bila pria itu mau menjalani tahanan rumah selama satu tahun. Pria itu jelas tidak mau dipenjara, tetapi ia juga tidak mau dikurung di dalam rumah. Enam bulan berlalu, ia merasa bosan, diam-diam ia nekat pergi keluar rumah mengendarai mobil tanpa SIM. Polisi memergokinya, ia ditangkap, dan dipenjara selama 15 tahun.


Demikian halnya dalam hidup yang kita jalani, hidup kita kerap diwarnai dengan pilihan dan pertukaran.


Ketika kita sudah tidak lagi bersabar dan nafsu begitu kuat menguasai hati, kita bisa mengambil keputusan tanpa berpikir panjang.


Tidaklah mengherankan apabila ada orang yang mau bertindak bodoh tanpa pertimbangan. Karena sudah gelap mata, hal tidak masuk akal pun dilakukan. Demi kepuasan jasmani, anugerah pun dipandang rendah dan dijual.


Sebagai anak sulung, Esau memegang hak penuh, hak kesulungan. Hak kesulungan memberinya hak kepemimpinan dalam ibadah dan keluarga, memberinya bagian ganda dalam harta warisan dan memberinya berkat perjanjian yang dijanjikan Allah.


Hak anak sulung inilah yang diberikan Kristus kepada orang-orang percaya. Namun, karena nafsu Esau memandang rendah dan menukarnya dengan kacang merah.


Esau kehilangan haknya dan tidak mendapat kesempatan memperolehnya lagi.


Belajar dari Esau, mari belajar menguasai nafsu sehingga hati kita tidak tergoda untuk merendahkan anugerah Allah yang telah dikaruniakan kepada kita.


”Kenikmatan dunia kerap membutkan hati. Anugerah TUHANpun dengan senang hati dijual demi kepuasan jasmani”

Comments


bottom of page