top of page

MENJUMPAI TUHAN DALAM KEHENINGAN

Updated: Apr 3


Mat. 27:61 “Tetapi Maria Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ duduk di depan kubur itu.”

Sabtu Sunyi atau Sabtu Sepi atau Sabtu Suci bahasa Latin : Sabbatum Sanctum - “Hari Sabat Suci” adalah hari setelah Jumat Agung dan sebelum Minggu Paskah.

Hari Sabtu Sunyi memperingati pada saat tubuh Yesus Kristus dibaringkan di kubur setelah pada hari Jumat Agung mati disalibkan. Keesokan harinya (Paskah) Yesus bangkit dari kematian-Nya.

Perayaan Sabtu Sunyi umumnya dilaksanakan dalam keheningan, tentu tidak melulu soal kesedihan, melainkan refleksi dan evaluasi diri atas pengurbanan Kristus sampai mati dikubur.

Sabtu Sunyi adalah keheningan yang menjembatani antara Jumat berdarah dengan Minggu bergelora, jembatan antara kematian Anak Domba dengan Kebangkitan Mesias Yesus Kristus.

Ada kesalehan yang dalam dan keluhuran yang agung, yang penting direnungkan mengenai Sabtu Sunyi.

Pada masa interval ini membentang antara harapan yang kandas dari para murid dan kejutan yang tidak diharapkan dari episode kemesiasan Yesus.

Dia mati, namun tidak seperti yang diharapkan dan dibayangkan oleh pengikut-Nya. Situasi mencekam karena para murid tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sabtu Sunyi adalah masa mengharapkan, meski kita tidak tahu pasti apa yang dapat diharapkan. Masa menanti, meski tidak tahu pasti apa yang sedang dinantikan.

Lebih dari itu, Sabtu itu adalah masa dimana ketakutan untuk mengharapkan, dan kekuatiran untuk berani menanti menjadi suatu kristalisasi situasi yang dingin dan mencekam.

Ditambah dengan ketakutan akan terjadi sesuatu seperti yang pernah dikatakan Yesus, “Pada hari yang ketiga Aku akan bangkit!” Mat 27:63-64

Bukankah situasi semacam ini terjadi dalam kehidupan kita saat ini?

Sejak Maret 2020 kita hidup dalam ketakutan,covid 19 menjadi pandemi yang melanda seluruh dunia,bahkan memasuki tahun 2024 virus civid 19 ini mengalami mutasi.

Dimana-mana kita dengar kematian, situasi yang mencekam, tanpa harapan dan kehilangan segalanya, bahkan kita nyaris tidak berbuat apa-apa karena kita tidak tahu harus berbuat apa. Kita benar-benar berada di Sabtu Sunyi sehari setelah kematian-Nya di kayu salib.

Dalam Sabtu Sunyi mari kita belajar hidup sejenak dalam keheningan dan memohon kepada Tuhan: ”Penuhi Kami ya Tuhan, dengan damai-Mu.”

”Dalam keheningan Sabtu Sunyi ini kita meminta Tuhan memenuhi kita dengan damai Tuhan. Bukan damai kita, tetapi damai Tuhan. Bukan damai menurut kita, tetapi damai menurut Tuhan.”


ความคิดเห็น


bottom of page