top of page

MENOLAK ANUGERAH



Yohanes 13:21 “Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."

Umumnya, orang meluapkan perasaan haru untuk mengungkapkan suatu kebahagiaan atau kegembiraan walau sesekali ditandai dengan menetesnya air mata.

Kita terharu ketika menyaksikan seseorang yang penuh perjuangan akhirnya berhasil menjadi juara. Para orang tua terharu saat akhirnya melihat anaknya lulus menjadi sarjana.

Namun, Yesus menunjukkan rasa haru kepada seseorang untuk alasan yang berbeda. Yesus terharu bukan karena merasa bahagia, tetapi kesedihan yang teramat besar karena tahu bahwa ada seorang dari para murid yang akan mengkhianati-Nya.

Rasa haru Yesus tidak ditunjukkan-Nya dengan kemarahan karena Ia dikhianati, sebaliknya, justru Ia sedang menunjukkan kasih-Nya yang besar kepada Yudas Iskariot.

Kasih Yesus kepada Yudas sesungguhnya Ia tunjukkan dengan memberikan roti yang telah dicelupkan pada saat perjamuan Paskah.

Inilah sebuah kebiasaan yang dilakukan sebagai tanda hormat tuan rumah kepada tamunya. Ini juga berarti sebuah kesempatan atau anugerah agar Yudas sadar dan bertobat.

Sayang, Yudas hanya bersedia menerima roti, tetapi menolak anugerah-Nya! Yudas memilih untuk melaksanakan niat jahatnya itu dan tidak bertobat.

Sikap Yudas mengingatkan kita tentang orang-orang yang menolak Yesus dan anugerah-Nya. Sekalipun tampaknya ia termasuk bagian sebagai pengikut Yesus, tetapi sesungguhnya hatinya menolak-Nya.

Ia sesungguhnya tidak kekurangan anugerah dan kesempatan untuk bertobat dan menerima janji Tuhan.

Tuhan terharu sedih ketika melihat ada niat jahat di hati kita. Hari ini Ia datang dan memberikan anugerah-Nya.

Apakah kita bersedia menerima anugerah-Nya dan menghentikan niat jahat kita?

”Ketika kita lebih suka mengikuti kehendak dosa daripada kehendak Allah, kita telah menolak anugrahNya”

Comentários


bottom of page