top of page

PEMBAYAR UTANG




Yesaya 53:4 “Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan disakiti Allah.”


Bila kita memiliki utang dan ada yang bersedia menanggungnya, niscaya kita akan sangat berterima kasih kepadanya.


Bayangkan, kalau utang kita sangat besar sehingga kita tidak dapat membayarnya, ketika ada yang menyediakan diri membayarkan seluruh utang kita, kita mungkin bahkan rela mengabdi padanya.


Sebaliknya, saya juga pernah menyaksikan orang yang masuk tahanan karena utang dan utangnya ditanggung oleh saudara jauhnya, yang bersangkutan tetap menganggap bahwa dirinyalah yang berjasa.


Yesaya menggambarkan Kristus sebagai pembayar utang nyawa kita, tetapi dengan cara yang sangat menyakitkan.


Penderitaan Kristus digambarkan secara luar biasa dalam Yesaya 53. Begitu dramatis, tetapi puitis dan indah.


Yang menarik, Yesaya memulai pasal ini dengan pertanyaan, "Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar …?"


Begitu menderitanya Juru Selamat kita sehingga sulit untuk memercayai gambaran Yesaya ini. Kristus tidak melawan ketika dinista, dianiaya, dan dibunuh dengan cara yang teramat keji. "Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian"


Dia disejajarkan dengan penjahat demi menanggung dosa, penyakit akibat dosa, dan kesengsaraan kita.


Yang percaya kepada Kristus harus memperlihatkan respons yang tepat atas penderitaan yang pernah Ia alami. Sebab, pada dasarnya kita adalah orang-orang berutang yang tidak mungkin sanggup melunasinya sendiri.


Sepatutnyalah kita mengabdi kepada-Nya yang telah membayar utang dosa kita dengan segenap hati.


”Kritus menebus kita melalui penderitaan yang sangat dahsyat, mari mengabdi kepada-Nya dengan segenap hati”

Comments


bottom of page