top of page

SAAT MERASA HANCUR



Yeremia 18:4 "Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya."


Daud diurapi menjadi raja namun harus hidup dalam pengejaran Saul. Hosea dipakai Allah sebagai nabi, tetapi harus memperistri seorang wanita sundal. Ayub orang yang saleh, namun ia diuji dengan penderitaan berat.


Yusuf mendapat petunjuk bahwa ia akan menjadi yang terbesar dari semua saudaranya. Namun ia dijual sebagai budak, bahkan harus merasakan hukuman penjara.


Daud, Hosea, Ayub dan Yusuf adalah orang-orang yang diberkati Tuhan. Namun tidak berarti bahwa mereka bebas dari pergumulan.


Masing-masing dari mereka bahkan diperhadapkan dengan persoalan yang rumit, melelahkan dan menguras emosi. Ibarat tanah liat, mereka dibanting-banting dan dihancurkan, sebelum dibentuk menjadi bejana yang indah.


Tuhan ibarat tukang periuk, yang berhak menghancurkan bejana yang rusak. Sedangkan kita, manusia berdosa, ibarat bejana yang rusak itu.


Tuhan Allah memiliki kedaulatan secara utuh atas diri kita. Dia dapat membentuk kita menjadi seperti yang diinginkan-Nya.


Peristiwa yang menyakitkan, menyedihkan, menyesakkan dan menguras emosi itu mungkin membuat kita merasa hancur.


Meski demikian, semua itu sesungguhnya hanyalah sarana yang dipakai Tuhan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang sesuai dengan rancangan-Nya.


Bukankah kesabaran teruji jika kita berhasil menjalani proses yang tak mudah? Dan kesetiaan teruji saat situasi tidak baik-baik saja? Pun pengenalan kita akan Tuhan, akan semakin dalam ketika kita mengalami-Nya secara pribadi. Karena itu, kita membutuhkan pergumulan sebagai sarana berproses.


Sesulit apa pun, Tuhan tidak pernah bermaksud menghancurkan kita. IA sedang membentuk, memperbaiki hidup kita menurut rancanganNya

Comentarios


bottom of page