top of page

SENANTIASA BERJAGA



2 Taw 35:22 “Tetapi Yosia tidak berpaling dari padanya, melainkan menyamar untuk berperang melawan dia. Ia tidak mengindahkan kata-kata Nekho, yang merupakan pesan Allah, lalu berperang di lembah Megido.”

Yosia menjadi raja ketika berumur delapan tahun. Meski masih sangat belia, ia melakukan hal benar di mata Tuhan. Yosia mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari bukit pengorbanan, tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan, patung-patung tuangan dan mezbah para Baal. Yosia memperbaiki rumah Tuhan. Ia bahkan mengadakan perayaan Paskah lebih besar daripada yang dilakukan Hizkia, sebagai peringatan atas pembebasan Israel dari perbudakan Mesir.

Atas pencapaiannya, boleh dikata Yosia banyak memecahkan rekor pada masa mudanya. Namun, sangat disesalkan karena Yosia melakukan kesalahan di masa tuanya.

Ia gagal memahami kehendak Tuhan, sehingga ia berusaha menghalangi tentara Nekho yang hendak memerangi Babel. Padahal, Israel tidak ada urusan dengan Mesir._

Nekho pun telah memberikan peringatan yang berasal dari Allah supaya ia tidak ikut campur. Namun Yosia memaksakan diri, bahkan dengan melakukan penyamaran.

Sebagai buah dari ketidakpekaannya Yosia pun harus mempertaruhkan nyawa. Ia mati dengan sia-sia.

Seiring bertambahnya usia, sebagian orang merasa tak perlu mengontrol diri karena sudah berpengalaman.

Tak mungkin melakukan kesalahan, apalagi mengalami kekalahan. Namun kisah Yosia menunjukkan kepada kita bahwa pencapaian rohani pada masa lalu tidak menjadikan seseorang kebal terhadap dosa.

Bergaul akrab dengan Tuhan harus dilakukan secara terus-menerus sebagai sarana berjaga.

Menghindarkan kita dari dosa, serta mengasah kepekaan supaya mampu membedakan suara Tuhan dari suara ambisi diri sendiri.

”Pencapaian rohani hendaknya membuat kita lebih berhati-hati supaya jangan mengabaikan Tuhan karena lebih mengandalkan diri sendiri”

Comments


bottom of page