top of page

TAK DICINTAI HINGGA MATI



2 Taw 21:20 “Yoram berumur tiga puluh dua tahun pada waktu menjadi raja dan selama delapan tahun ia memerintah di Yerusalem. Ia meninggal tanpa disesali orang. Ia dikuburkan di kota Daud, tetapi tidak di dalam pekuburan raja-raja.”

Tanggapan orang-orang ketika mendengar berita kematian seseorang menyiratkan banyak hal.

Mereka yang telah meninggalkan dampak yang baik semasa hidup biasanya akan ditangisi banyak orang. Diusahakan hadir melayat. Dikenang kebaikannya. Dikirimi bunga, sumbangan sosial, atau iklan dukacita. Diberangkatkan ke pemakaman dengan penuh hormat.

Makin banyak orang yang hidupnya disentuh oleh sang mendiang, maka semakin banyak orang menunjukkan ekspresi kehilangan. Itu adalah tanda cinta mereka.

Sebaliknya, ada orang-orang yang meninggal nyaris tanpa reaksi duka dari banyak orang. Seperti tidak terjadi apa-apa.

Salah satu kemungkinannya adalah karena semasa hidupnya berdampak buruk. Kisah Yoram adalah contohnya. Ia adalah raja Yehuda. Ia mengawini Atalya, sang penyembah berhala, putri Ahab dan Izebel.

Hidupnya penuh kejahatan serta menyesatkan umat Allah. Ia bahkan membunuh semua adiknya, serta para pembesar Israel, agar takhtanya tetap kokoh. Teguran Nabi Elia pun diabaikannya.

Ketika akhirnya ia mati muda setelah menderita penyakit usus yang mengerikan, ia diperlakukan dengan hina oleh rakyatnya.

Tidak ada pembakaran wewangian saat pemakamannya sebagai tanda hormat sebagaimana tradisi Israel. Ia bahkan tidak dimakamkan di pekuburan raja-raja. Ia tidak dicintai, hingga ia mati. Namun, itu adalah akibat perbuatannya sendiri.

Cara kita menjalani hidup pasti berdampak pada bagaimana orang-orang di sekeliling kita memperlakukan kita.

Kita menuai apa yang kita tabur. Selagi hidup, marilah kita senantiasa menaburkan kebaikan dan cinta.

”Sesungguhnya, orang-orang yang mati tetap hidup dengan segala kebaikannya dalam kenangan orang-orang yang mengasihi-Nya”

Comments


bottom of page